Jenis Serangga Yang Cocok Dibudidayakan

Jenis budidaya hewan mencakup segala jenis, dari mulai unggas, mamalia, amfibi, dan bahkan serangga. Jenis ternak serangga yang paling umum adalah lebah sebagai penghasil madu.

Sebab madu memang menjadi salah satu komoditas yang menggiurkan, termasuk bagi semua kalangan masyarakat. Namun, untuk membudidayakan lebah memang memerlukan lokasi dan lahan yang cukup luas serta keterampilan khusus. Selain itu usaha budidaya lebah madu juga cukup banyak kompetitornya sehingga membutuhkan perencanaan yang matang.

Nah, ternyata ada juga serangga yang bisa dibudidayakan selain lebah dengan hasil madunya yang terbilang mudah dan masih sedikit kompetitornya. Selain itu serangga berikut ini juga bisa menjadi salah satu lahan bisnis yang menguntungkan. Berikut diantaranya;

1. Budidaya Semut Jepang

Semut yang berasal dari Jepang ini memiliki nama latin Tenebrio molitor. Serangga ini merupakan jenis seragga yang mirip dengan kumbang.

Perbedaan semut Jepang dengan semut lainnya adalah badan yang keras, bersayap namun tidak terbang, hidup secara berkelompok, cepat bereproduksi, dan bukan hewan kanibal.

Banyak orang percaya bahwa Semut Jepang bisa dijadikan obat herbal untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Meskipun hal ini belum terbukti melalui penelitian ilmiah.

Membudidayakan Semut Jepang tidaklah terlalu sulit. Hanya bermodalkan wadah sederhana semisal toples kaca yang diiisi kapas sebagai media rumah bagi koloni semut.

Semut Jepang akan dengan sendirinya berkembang biak di dalamnya. Untuk jenis makanan yang diberikan juga mudah didapat yaitu ragi tape.

Pemberian pakan ini bisa diberikan seminggu sekali dengan tiga butir ragi tape. Berdasarkan pengalaman peternak sebelumnya, dari 10 ekor Semut Jepang, bisa diternakkan hingga menjadi sekitar 200 ekor dalam waktu sekitar 2 bulan.

Semakin banyak bibit Semut Jepang yang dibudidayakan, maka akan lebih cepat dan menghasilkan. Harga Semut Jepang di pasaran sendiri berkisar antara Rp10.000 – Rp50.000 per ekornya.

2. Budidaya Jangkrik

Hewan nocturnal ini sudah tentu tidak asing lagi bagi banyak orang. Jangkrik atau Cangkerik termasuk dalam keluarga Gryllidae dan termasuk serangga pemakan segala atau omnivora.

Sejak jaman dahulu, Jangkrik diternakkan karena berbagai alasan, misalnya untuk aduan, pakan burung, hingga dimanfaatkan sebagai kuliner.

Bahkan kini dengan berbagai hasil riset penelitian, tubuh Jangkrik juga bisa digunakan untuk bahan industri seperti kosmetik dan obat-obatan.

Untuk memulai beternak Jangkrik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan membuat kandang berupa kotak kerdus berukuran sekitar 100 cm x 60 cm x 30 cm.

Sementara itu pada bagian atas kardus diberi lubang kecil-kecil sebagai ventilasi udara dan pencahayaan. Sarana pendukung lainnya yang juga harus disiapkan adalah rumpon yang terbuat dari daun-daun atau kertas sebagai media sarang dan persembunyian.

Dalam Kandang tersebut Jangkrik jantan dan betina dibiarkan hidup alami agar bereproduksi dan menghasilkan telur.

Pemberian makan Jangkrik berupa sayuran muda dan tepung jagung, palawija, dan sebagainya. Jangkrik dijual di pasaran setelah berumur sekitar 1 – 1,5 bulan seharga Rp30.000 – Rp60.000 per kilogram.

3. Budidaya Cacing Sutra

Serangga berjenis molusca yang banyak dilirik untuk budidaya adalah Cacing Sutra. Binatang melata ini dijadikan sebagai pakan bergizi bagi ikan-ikan piaraan.

Budidaya Cacing Sutra merupakan peluang usaha yang potensial terutama di kawasan yang banyak terdapat usaha perikanan.

Cacing Sutra atau bernama ilmiah Tubifex sp., merupakan jenis cacing kecil yang berhabitat asli di daerah air tawar. Tubuhnya beruas-ruas sehingga digolongkan juga dalam keluarga Nematoda. Cacing Sutra juga dikenal dengan sebutan Cacing Rambut atau Cacing Darah.

Dalam memulai usaha budidaya Cacing Sutra, bibit cacing bisa diperoleh dengan cara mencarinya langsung di alam, seperti selokan atau kolam-kolam tanah dan dapat juga membelinya langsung di toko-toko pakan ikan.

Median yang digunakan untuk budidaya adalah kolam kubangan lumpur berukuran 1 m x 2 m atau 2 m x 4 m dengan kedalaman 40 – 50 cm.

Kolam mini juga sebaiknya dilengkapi dengan saluran sirkulasi air. Kemudian kubangan tersebut kemudian diberi petak-petak kecil seukuran 20 cm x 20 cm dengan tinggi sekat sekitar 15 cm. Lahan kubangan juga perlu diberi pupuk agar lumpur nya kaya akan nutrisi yang dibutuhkan Cacing Sutra.

Setiap kolam biasanya akan menghasilkan sekitar 30 liter Cacing Sutra tergantung ukuran dengan harga jual Rp30.000 per liter.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *